Di copas dari sini
TenTu kita pernah dengar program televisi “termehek-mehek” yg ada di trans tv…
tapi..
Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Fetty Fajriati Misbach mengatakan program televisi ‘termehek-mehek’ membohongi penonton karena tidak seluruh tayangan berdasarkan kualitas.
Menurut Fetty, tayangan ‘termehek-mehek’ telah dibumbui skenario yang didramatisasi. Jadi sudah seharusnya tim program ‘termehek-mehek’ jujur dengan menyebut acara itu sebagai drama reality, bukan reality show.
Di tempat yang sama, Panca, perwakilan Trans Corporation mengakui bahwa ‘termehek-mehek’ tidaklah murni kisah nyata, melainkan drama reality.
Sabtu, 13 Juni 2009
Jumat, 12 Juni 2009
Memahami Fatwa Haram Facebook
Facebook, sebagai sebuah sarana pada dasarnya mempunyai status awal
netral yaitu halal. Pengguna facebook-lah yang kemudian menjadikannya
berubah ‘status’ menjadi haram atau tetap dalam kehalalannya. Halal
ketika digunakan tetap pada koridor kepatuhan syar’I dengan menjaga
adab-adab dan etika pergaulan. Lalu haram ketika facebook digunakan
untuk memperlancar kemaksiatan serta mendalami hal-hal yang sia-sia
tiada guna. Jadi sampai dititik ini, kembali kepada pelakunya.
Ibaratnya kata orang : The man behind the gun.
netral yaitu halal. Pengguna facebook-lah yang kemudian menjadikannya
berubah ‘status’ menjadi haram atau tetap dalam kehalalannya. Halal
ketika digunakan tetap pada koridor kepatuhan syar’I dengan menjaga
adab-adab dan etika pergaulan. Lalu haram ketika facebook digunakan
untuk memperlancar kemaksiatan serta mendalami hal-hal yang sia-sia
tiada guna. Jadi sampai dititik ini, kembali kepada pelakunya.
Ibaratnya kata orang : The man behind the gun.
Rebutan pulau berujung perang?
Perseteruan
Indonesia dan Malaysia mengenai Ambalat tak kunjung usai. Sejak 30
tahun lalu hingga hari ini, kedua negara masih belum mendapat jalan
tengah. Kapan masalah ini akan usai? Milik siapa Ambalat sebenarnya?
Beberapa
hari belakangan ini, kasus Ambalat menjadi sorotan publik. Muncul
indikasi bahwa perseteruan itu disebabkan perebutan minyak. Apalagi
kapal perang Malaysia juga pernah masuk ke wilayah yang sama pada 2007.
Upaya pemerintah untuk mengatasi hal ini tak kurang gencarnya.
"Kami
telah mengirimkan nota protes ke Malaysia hingga 35 kali. Terbaru, kami
kirimkan satu lagi pada 4 Juni 2009 kemarin. Pemerintah sudah cukup
tegas dengan hal ini," demikian dituturkan Jubir Deplu Teuku Faizasyah
saat press briefing di Gedung Deplu, Jakarta, Jumat (5/6).
Indonesia dan Malaysia mengenai Ambalat tak kunjung usai. Sejak 30
tahun lalu hingga hari ini, kedua negara masih belum mendapat jalan
tengah. Kapan masalah ini akan usai? Milik siapa Ambalat sebenarnya?
Beberapa
hari belakangan ini, kasus Ambalat menjadi sorotan publik. Muncul
indikasi bahwa perseteruan itu disebabkan perebutan minyak. Apalagi
kapal perang Malaysia juga pernah masuk ke wilayah yang sama pada 2007.
Upaya pemerintah untuk mengatasi hal ini tak kurang gencarnya.
"Kami
telah mengirimkan nota protes ke Malaysia hingga 35 kali. Terbaru, kami
kirimkan satu lagi pada 4 Juni 2009 kemarin. Pemerintah sudah cukup
tegas dengan hal ini," demikian dituturkan Jubir Deplu Teuku Faizasyah
saat press briefing di Gedung Deplu, Jakarta, Jumat (5/6).
Langganan:
Postingan (Atom)